Selasa, 28 September 2010

Ternyata Rokok Mengandung Darah Babi
Sydney - sebuah riset terbaru dari seorang ilmuwan asal Belanda , Dia menemukan kandungan
hemoglobin ( darah merah ) dari Babi sebagai salah satu bahan untuk membuat folter rokok.

Fakta mencengangkan ini diungkap oleh peneliti dari Eindhoven Belanda , Christien Meindertsma , dan didukung oleh Profesor Kesehatan Masyarakat dari University of Sydney yang bernama
Chapman.

Homoglobin atau protein darah babi , ternyata digunakan untuk membuat filter rokok agar lebih
efektif untuk menagkap bahan /zat kimia berbahaya , sebelum masuk paru - paru seorang perokok.
Menurut Chapman , industri rokok Dunia memeng kerap merahasiakan bahan - bahan yang mereka gunakan ( termasuk filter ini )

" Menurut mereka ini adalah Bisnis , dan rahasia dagang kami " kata Chapman seperti yang dilansir oleh " News.com , kamis ( 01 April 2010 )

Propesor Chapman mengatakan penelitian ini memberitahu dunia tentang rahasia pembuatan rokok , dan untuk meningkatkan kepedulian terhadap Umat Muslim dan Yahudi yang taat , karna babi sangat diharamkan bagi kedua agama / umat tersebut.
" Masyarakat Yahudi dan Muslim pasti akan menanggapi ini dengan serius , dan juga para Vegatarian " pungkas Prof. Chapman

Tak ayal temuan ini menjadi bahan diskusi serius para ulama Islam dan para Agamawan Yahudi dibeberapa Negara.

Senin, 20 September 2010

http://www.dalimunthe.com/2010/04/15-cara-menghilangkan-keringat-berlebih.html
Berikut beberapa tips penting untuk mengatasi masalah kegemukan. Tips ini insya Allah DIJAMIN efektif bagi orang gemuk untuk melangsingkan tubuhnya ke berat badan normal (bukan berarti kurus kering lho…)

1. Mulailah dengan menimbulkan “Vitamin KK” alias Kemauan Kuat pada diri Anda untuk membenahi pola hidup Anda… Susah? Eit, jangan dulu mengatakan susah! Ganti saja menjadi gampang-gampang-susah. Jadi gampangnya 2x dan susahnya 1x :)

2. Atur kembali cara makan Anda.

* Lebih dari 70% fakta kegemukan pada kepustakaan yang saya baca di luar faktor keturunan adalah diikuti atau diawali dengan cara makan yang salah
* Rasulullah SAW adalah orang yang senantiasa menjaga makannya dengan cara makan hanya bila lapar, dan berhenti sebelum kenyang (bukannya seperti filosofi kebanyakan orang yang gemuk : makan ketika datang waktunya, berhenti setelah perut merasa terlalu kenyang sehingga tidak dapat dimasuki lagi hehehe…)

3. Gunakan pola makan 3-2-1® (registered trademark of DrArief.com)

* Tentu maksudnya bukan makan pagi 3 porsi, makan siang 2 porsi, dan makan malam 1 porsi… alangkah gemuknya kita bila mengikuti pola itu :) Maksudnya adalah : makan pagi menduduki skor 3, makan siang menduduki skor 2, dan makan malam menduduki skor 1. Skor ini menunjukkan kepentingannya, yang berhubungan dengan pola hidup orang normal (pada umumnya) bekerja pada pagi hari dan istirahat pada malam hari; tentunya berlaku sebaliknya bila Anda bekerja sebagai petugas yang senantiasa bekerja di malam hari dan tidur di pagi hari.

4. Jauhi jarak antara makan malam dengan tidur

* Semakin dekat jarak antar makan malam dengan tidur, itu berarti Anda memberikan tambahan “PR” bagi tubuh untuk membakar kalori dari hasil makan malam tadi menjadi lemak selama Anda tidur.

5. Hindari deposito yang tidak perlu!

* Kebanyakan orang gemuk punya cara tersendiri untuk mengisi waktu-waktu khususnya, seperti kebiasaan minum kopi manis di sore hari, teh manis di malam hari, dsb. Ini adalah kebiasaan, bukan kebutuhan. Bila tubuh Anda sudah terasa berat untuk beraktivitas, ada baiknya Anda tinjau kembali perlu tidaknya tubuh Anda mendapatkan “suntikan deposito” lemak secara rutin.

6. Upayakan komposisi makan yang didasari prinsip yang sesuai dengan kebutuhan.

* Bila aktivitas harian Anda lebih banyak menggunakan aktivitas fisik (otot), tentu tubuh Anda lebih banyak membutuhkan karbohidrat.
* Bila aktivitas harian Anda lebih banyak menggunakan aktivitas berfikir (otak), tentu tubuh Anda lebih banyak membutuhkan protein.
* Cara mudah untuk menimbang takarannya adalah dengan melihat point no. 2 di atas.

7. Jangan “asal isi” perut Anda setiap saat ia lapar

* Upayakan substitusi yang tidak berpotensi menambah lemak Anda ketika serangan lapar datang.
* Campurkan porsi makanan utama Anda dengan agar-agar supaya lebih berisi.
* Perbanyaklah minum air daripada menambah porsi makan.
* Perbanyak buah segar, khususnya bila terasa lapar di waktu malam. Tentu bukan durian, alpukat, dan buah berlemak lain.

8. Aktifkan kembali otot-otot tubuh Anda dengan olah raga. Otot selalu berlawanan dengan lemak. Bila otot Anda “memakan” zat-zat hasil pembakaran makanan dalam jumlah yang tidak berlebihan, maka bisa dipastikan uang kembalian yang akan “disetor” ke tabungan lemak pasti akan sedikit. Karenanya, upayakan selalu agar otot Anda aktif.

9. Ini dia… Ramuan khusus!

* Ini adalah kombinasi zat alami unik yang telah dicoba oleh banyak orang dan terbukti berhasil. Tapi ini adalah ramuan tradisional, jadi tidak ada statistik yang memadai sebagaimana obat kimia. Minumlah secangkir campuran madu dan bubuk kayumanis yang telah direbus, setiap pagi, 30 menit sebelum sarapan saat perut masih kosong dan pada malam hari sebelum tidur. Bila diminum secara teratur insya Allah dapat menurunkan berat badan… bahkan untuk mereka yang mengalami obesitas sekalipun. Konon campuran ini juga dapat mencegah penimbunan lemak yang berlebihan pada tubuh.

Rabu, 01 September 2010

daftar pustaka

http://ktiptk.blogspirit.com/archive/2009/01/09/contoh-laporan-penelitian-tindakan-kelas-ptk-tik.html
http://biologi-staincrb.web.id/blog/makalah-ptk
http://mashudismada.wordpress.com/2009/03/22/kumpulan-judul-karya-tulis-ptk/
http://mashudismada.wordpress.com/2009/04/17/kumpulan-judul-ptk-penelitian-tindakan-kelas
http://orang-biasa.co.cc/search/kumpulan+judul+ptk+penelitian+tindakan+kelas+karya+tulis
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto Suharsimi,dkk (2008), Penelitian Tindakan Kelas, Bumi Angkasa, Jakarta.
Aqib Zainal (2007), Penelitian Tindakan Kelas, Yrama Widya, Bandung.
Wiriaatmaja Rachiati, Metode Penelitian Tindakan Kelas, Rosda, Bandung
 http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/03/21/penelitian-tindakan-kelas...
 http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2009/02/penelitian-tindakan-...
 http://118.98.216.59/subdom/modul/bahan/pend_ptk_2008/mdptk.htm
http://www.scribd.com/doc/28847137/MAKALAH-PTK
http://makalahkumakalahmu.wordpress.com/2008/09/15/penelitian-tindakan-kelas/
http://makalahkumakalahmu.wordpress.com/category/makalah-penelitian-tindakan-kelas/
http://id.wordpress.com/tag/makalah-penelitian-tindakan-kelas/
http://ktiptk.blogspirit.com/archive/2009/01/26/contoh-proposal-penelitian-kualitatif.html
http://lowongankerjamu.info/search/Contoh%20Proposal%20Penelitian%20Tindakan%20Kelas%20%20PTK%20%20Makalah
Departemen Pendidikan Nasional. 2004. Pedoman Khusus Pengembangan Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi Sekolah Menengah Pertama. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Direktorat Pendidikan Nasional. 2003. Media Pembelajaran (Penulisan Karya Ilmiah dan Penelitian Tindakan Kelas). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Djamarah, S. B. 1999. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya: Usaha Nasional
Sobel, M. A & Maletsky. 2002. Teaching Mathematics; A Sourcebook of Aid, Activities and Strategies. Terjemahan oleh Suyono. Jakarta: Erlangga
Negoro, H. B. 2001. Ensiklopedia Matematika Edisi ke3. Jakarta: Ghalia Indonesia
Suherman, E. 1994 Evaluasi Proses dan Hasil Belajar Matematika. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Tim Trainer KPI. 2005. Matematika, Bilangan dan Operasinya. Surabaya: Pusat Layanan Peningkatan Mutu Sekolah Islam
http://wijayalabs.blogdetik.com/2009/07/10/contoh-proposal-ptk/

http://ktiptk.blogspirit.com/archive/2009/01/09/contoh-laporan-penelitian-tindakan-kelas-ptk-tik.html
http://www.docstoc.com/docs/22651522/PENELITIAN-TINDAKAN-KELAS-(PTK)
http://www.scribd.com/doc/2591170/PENELITIAN-TINDAKAN-KELAS
http://ktiptk.blogspirit.com/archive/2009/01/03/judul-penelitian-tindakan-kelas.html
http://ktiptk.blogspirit.com/archive/2009/01/03/judul-penelitian-tindakan-kelas.html
http://www.facebook.com/people/Penelitian-Tindakan-Kelas/1851980925
http://dedidwitagama.wordpress.com/2007/11/30/penelitian-tindakan-kelas-lpm-unj/
http://ktiptk.blogspirit.com/archive/2009/01/03/judul-penelitian-tindakan-kelas.html
http://ktiptk.blogspirit.com/archive/2009/01/26/ptk-suharsimi.html ....
http://www.pdf-search-engine.com/s-ptk-suharsimi-arikunto-laporan-ptk-matematika-pdf.html
Arikunto, Suharsimi. 1991. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Hopkins, David. 1993. A. Teacher's Guide to Classroom Research. Second Edition. Philadelphia: Open University Press.

Kemmis, S & McTaggart, R. 1998. The Action Research Planner, Third Edition. Victoria: Deakin University.

Natawidjaya, Rochman. 1997. Konsep Dasar Penelitian Tindakan. Bandung: IKIP Bandung.

Nurhalim, K. 2000. Prosedur Pelaksanaan PTK. Makalah Disajikan pada Pelatihan Pengembangan Penelitian Tindakan Kelas bagi Tenaga Kependidikan Baik Dosen maupun Guru di Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh Lemlit Universitas Negeri Semarang 10-19 Juli 2000.

Priyono, Andreas. 2000. Identifikasi dan Pemecahan Masalah dalam Classroom-Based Action Research. Makalah Disajikan pada Pelatihan Pengembangan Penelitian Tindakan Kelas bagi Tenaga Kependidikan Baik Dosen maupun Guru di Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh Lemlit Universitas Negeri Semarang 10-19 Juli 2000.
http://www.downselot.com/search.php?search=penelitian+tindakan+kelas&action=search
http://www.downselot.com/search.php?search=penelitian+tindakan+kelas+sd&action=search
http://www.docstoc.com/docs/21178386/PENELITIAN-TINDAKAN-KELAS-(CLASSROOM-ACTION-RESEARCH)-SALAH-SATU
http://robeeon.net/tag/contoh-proposal-penelitian-tindakan-kelas-pendidikan-agama-islam-pdf

ptk ali

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Judul: PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENELITIAN / RESEARCH.
Nama & E-mail (Penulis): Trimo, S.Pd.,M.Pd.
Saya Kepala Sekolah di Kabupaten Kendal
Topik: PTK
Tanggal: 22 Desember 2007
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
(Sebuah Refleksi Pembangkitan Profesionalisme Guru)

A. Prolog

Berbagai disain pendidikan dan pelatihan seolah menjadi idola oleh sebuah lembaga pendidikan, yang bermuara pada perlunya guru mengembangkan profesi. Bahkan, kesan "pemaksaan" guru untuk meneliti pun menjadi sebuah fenomena yang layak untuk ditindakkritisi. Apalagi opini publik telanjur memberi cap yang memerahkan telinga stakeholders pendidikan lantaran belum ada kontribusi yang signifikan antara harapan dan kenyataan dari sebuah kerja yang bernama diklat.

Sebenarnya guru harus bangga manakala mengemban tugas yang terkait dengan diklat. Namun, beberapa diskusi terbatas yang sering saya lontarkan kepada teman-teman guru seakan tidak begitu peduli terhadap masa depan dari diklat yang diikuti. Mereka nyaris tidak terbebani dari "ilmu teoretis" yang sebenarnya secara conditio sine qua non perlu disebarluaskan kepada rekan sejawat, serta memelopori penerapannya. Itulah potret kita, guru masa depan bangsa.

Tulisan sederhana ini merupakan refleksi perlunya guru belajar memahami hakikat pengembangan profesi, khususnya penelitian tindakan kelas yang mensyaratkan guru untuk mendisain pembelajaran bermakna.

B. Content

1. Konsep Dasar Pengembangan Profesi

Sekadar membangkitkan kecerdasan anda, pengembangan profesi adalah kegiatan guru dalam rangka pengamalan ilmu dan pengetahuan, teknologi dan keterampilan untuk peningkatan mutu baik bagi proses belajar-mengajar dan profesionalisme tenaga kependidikan lainnya maupun dalam rangka menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi pendidikan dan kebudayaan

Setidaknya ada 5 (lima) macam kegiatan pengembangan profesi yang dapat anda lakukan, yakni: (1) melaksanakan kegiatan karya ilmiah di bidang pendidikan; (2) menemukan teknologi tepat guna di bidang pendidikan; (3) membuat alat pelajaran/peraga atau alat bimbingan; (4) menciptakan karya seni; dan (5) mengikuti kegiatan pengembangan kurikulum.

Kegiatan karya ilmiah di bidang pendidikan terdiri atas 7 (tujuh) hal yakni: (1) karya ilmiah hasil penelitian; (2) makalah berisi ulasan ilmiah; (3) tulisan ilmiah popular di bidang pendidikan dan kebudayaan yang disebarluaskan melalui media massa; (4) prasaran yang berupa tinjauan, ulasan ilmiah yang disampaikan dalam pertemuan ilmiah; (5) buku pelajaran atau modul; (6) diktat pelajaran; dan (7) karya penerjemahan buku pelajaran yang bermanfaat bagi pendidikan.

2. Konsep Dasar Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Penelitian tindakan kelas atau lebih ngetrend disebut classroom action research merupakan kajian sistematik tentang upaya meningkatkan mutu praktik pendidikan oleh sekelompok masyarakat melalui tindakan praktis yang mereka lakukan dan merefleksi hasil tindakannya (Hopkins 1993).

Penelitian tindakan adalah studi yang dilakukan untuk memperbaiki diri sendiri, pengalaman kerja sendiri, tetapi dilaksanakan secara sistematis, terencana, dan dengan sikap mawas diri (Kemmis dan Mc Tanggart 1988).

Karakteristik PTK meliputi: (1) dirancang untuk mengatasi permasalahan nyata, (2) diterapkan secara kontekstual, (3) terarah pada peningkatan kinerja guru di kelas, (4) bersifat fleksibel, (5) data diperoleh langsung dari pengamatan atas perilaku dan refleksi, (6) bersifat situasional dan spesifik (Natawidjaya 1997).

Tujuan PTK:

a. untuk menanggulangi masalah atau kesulitan dalam bidang pendidikan dan pengajaran
b. untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerja
c. untuk melaksanakan program pelatihan dan jabatan guru
d. untuk memasukkan unsur-unsur pembaruan dalam sistem pembelajaran.
e. untuk meningkatkan interaksi pembelajaran
f. untuk perbaikan suasana keseluruhan stakeholders pendidikan (Natawidjaya 1997)

Manfaat PTK:

a. Secara teoretis (1) membantu guru mengembangkan ilmu pengetahuan, (2) menerapkan teori-teori pembelajaran bermakna.
b. Secara praktis: (1) guru dapat melakukan inovasi pembelajaran, (2) guru dapat meningkatkan kemampuan reflektifnya dan mampu memecahkan permasalahan pembelajaran, (3) guru terlatih mengembangkan kurikulum, (4) tercapai peningkatkan profesionalisme guru.

Mengacu pengertian di atas dapat dimaknai bahwa PTK merupakan penelitian yang bersifat reflektif. Permasalahan riil yang dihadapi guru dalam proses pembelajaran merupakan kata kunci untuk melakukan PTK, kemudian dicarikan alternatif pemecahannya,dan ditindaklanjuti dengan tindakan-tindakan nyata (action) yang dilakukan guru (dan bersama pihak lain).

3. Pengajuan Proposal PTK

Menyusun proposal PTK, identik dengan menyusun Rencana Pembelajaran saat guru menjelaskan materi. Proposal perlu disusun sebelumnya untuk mendeskripsikan serangkaian proses dari penelitian yang akan dilakukan. Setidaknya bagian-bagian proposal PTK meliputi:

a. Judul Penelitian

Judul penelitian hendaknya menyatakan dengan akurat dan padat permasalahan serta bentuk tindakan yang dilakukan. Formulasinya singkat, jelas, dan sederhana namun secara tersirat telah menampilkan sosok PTK.

Contoh:
Pemberian Tugas Tambahan untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Pokok Bahasan Soal Cerita pada Siswa kelas VI SDN 2 Blorok Kabupaten Kendal Tahun Pelajaran 2006/2007

b. Latar Belakang Masalah

Ada dua hal yang perlu ditelaah dalam latar belakang masalah, yakni: kondisi ideal dan realitas dilapangan. Dimulai mengupas hal-hal yang bersifat ideal, lantas muncul permasalahan. Yang perlu diingat: munculnya permasalahan perlu didukung dengan data, pengamatan, teori, dan bila perlu penelitian terdahulu.

c. Permasalahan

Sebelum merumuskan permasalahan, seorang peneliti perlu mengidentifikasi permasalahan. Pada dasarnya masalah berpangkal pada sesuatu yang ideal. Masalah akan muncul jika kita menyadari adanya kesenjangan di lingkungan kita. Priyono (2000) mengatakan bahwa merupakan kesalahan besar menerapkan suatu intervensi tanpa diketahui terlebih dahulu akar permasalahan. Ditambahkan Arikunto (1991) bahwa permasalahan dalam penelitian dibedakan atas tiga yakni deskriptif, komparatif, dan korelatif.

Contoh:
1) Bagaimana penerapan pemberian tugas tambahan untuk meningkatkan prestasi belajar matematika pokok bahasan soal cerita?"

2) Apakah pemberian tugas tambahan dapat meningkatkan prestasi belajar matematika pokok bahasan soal cerita?

d. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Pada dasarnya tujuan penelitian merupakan suatu rumusan yang isi pokoknya adalah target yang akan dicapai dalam suatu penelitian. Tujuan penelitian perlu diselaraskan dengan permasalahan.

Manfaat penelitian dibedakan dua hal, yakni teoretis dan praktis. Manfaat teoretis berkaitan dengan penerapan teori sedangkan praktis berkaitan dengan orang, badan, organisasi, dan lembaga.

e. Landasan Teoretis

Ada empat hal yang perlu diungkap dalam landasan teoretis, yakni kajian pustaka, kajian teori, kerangka berpikir, dan hipotesis tindakan.

Kajian pustaka memuat konsep yang bersangkutan dengan masalah yang hendak diteliti dan menelaah hasil-hasil penelitian terdahulu.

Kajian teori memuat teori-teori yang mendukung persoalan yang dibahas. Dalam konteks ini, peneliti perlu cerdas dalam menyusun teori-teori yang digunakan. Yang perlu diingat: dalam penyusunan teori-teori, peneliti harus cerdas dalam mengolah bahasa sehingga tidak terkesan comot sana-comot sini tanpa memberikan apresiasi terhadap yang dikutip.

Kerangka berpikir merupakan argumentasi teoretik terhadap permasalahan yang dibahas. Dalam kerangka berpikir terdapat ulasan singkat mengenai asumsi bahwa melalui tindakan tertentu dapat meningkatkan sesuatu, selaras permasalahan penelitian.

Hipotesis tindakan merupakan simpulan dari landasan teoretis dan kerangka berpikir.

Contoh:
Melalui pemberian tugas tambahan, prestasi belajar Matematika siswa kelas VI SDN 1 Magelung tahun pelajaran 2005/2006 dapat meningkat

f. Metode Penelitian

Metode penelitian adalah cara yang ditempuh untuk memecahkan permasalahan penelitian. Dalam metode penelitian dibahas: (1) setting penelitian dan karakteristrik subjek penelitian, (2) variable yang diteliti, (3) rencana tindakan, (4) data dan cara pengumpulannya, (5) indikator keberhasilan.

Dalam setting penelitian dan karakteristrik subjek penelitian diungkapkan kelas berapa penelitian dilakukan dan bagaimana karakteristik kelas tersebut, seperti jumlah siswa, komposisi siswa menurut jenis kelamin, latar belakang sosial ekonomi, kategori kelas, dan sejenisnya.

Variabel penelitian merupakan gejala yang diamati dan menjadi titik incar/fokus untuk menjawab permasalahan.

Ada beberapa model rencana PTK, yakni model Kurt Lewin, Kemmis & Mc Taggart, John Elliot, dan Hopkins (Nurhalim 2000). Dari beberapa model tersebut, model Kurt Lewin merupakan model yang paling sederhana, yang mencakupi:

1) Perencanaan (planning), yakni persiapan yang dilakukan untuk pelaksanaan PTK, seperti: penyusunan scenario pembelajaran, pembuatan media,

2) Tindakan (acting), yaitu diskripsi tindakan yang akan dilakukan, scenario kerja tindakan perbaikan yang akan dikerjakan, dan prosedur tindakan yang akan diterapkan.

3) Observasi (observing), yaitu kegiatan mengamati dampak atas tindakan yang dilakukan. Kegiatan ini dapatdilakukan dengan cara pengamatan, wawancara, kuesiober atau cara lain yang sesuai dengan data yang dibutuhkan.

4) Refleksi (reflecting), yaitu kegiatan evaluasi tentang perubahan yang terjadi atau hasil yang diperoleh atas data yang terhimpun sebagai bentuk dampak tindakan yang telah dirancang. Berdasarkan langkah ini akan dapat diketahui perubahan yang terjadi dan dilakukan telaah mengapa, bagaimana, dan sejauhmana tindakan yang ditetapkan mampu mencapai perubahan atau mengatasi masalah secara signifikan. Bertolak dari refleksi ini pula suatu perbaikan tindakan dalam bentuk replanning dapat dilakukan.

Dalam PTK, data perlu diuraikan secara jelas. Format dapat bersifat kualitatif, kuantitatif atau kombinasi di antara keduanya. Cara pengumpulan data dapat melalui pengamatan, tes, jurnal harian, dan sejenisnya.

Indikator keberhasilan merupakan tolok ukur keberhasilan kinerja dari tindakan yang dilakukan.

Contoh:
1) Guru terampil mengelola proses belajar-mengajar matematika dengan memberikan tugas tambahan khususnya pokok bahasan soal cerita.

2) Terjadi interaksi aktif antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa sehingga suasana proses belajar-mengajar dapat kondusif.

3) 85% siswa kelas VI SDN 1 Magelung mengalami ketuntasan belajar.

g. Jadwal Penelitian

Jadwal kegiatan penelitian disusun dalam bentuk matriks yang menggambarkan urutan kegiatan dari awal hingga akhir.

h. Daftar Pustaka

Daftar pustaka disusun menurut abjad pengarang., tahun terbit. Judul Buku, nama kota, dan nama penerbit.

Contoh:

Sutajaya, Tri Elang. 2004. Menjadi Guru yang Cerdas di Era Kompetitif. Semarang: Panca Agni.

4. Menyusun Laporan Penelitian Tindakan Kelas

Setelah proposal disetujui oleh pihak yang berwenang (kepala sekolah, kepala Cabang Dinas Pendidikan, dan sejenisnya) kemudian peneliti mengadakan treatment sesuai prosedur dalam proposal. Setelah mendapatkan data secara holistic maka kegiatan selanjutnya adalah menyusun laporan PTK. Penyusunan laporan mencakupi:

a. Judul

b. Abstrak

c. Bab I : Pendahuluan berisi latar belakang masalah, permasalahan, tujuan dan manfaat penelitian.

d. Bab II : Landasan Teoretis berisi Kajian Pustaka, Kajian Teori, Kerangka Berpikir, dan Hipotesis Tindakan.

e. Bab III : Metode Penelitian terdiri atas (1) setting penelitian dan karakteristrik subjek penelitian, (2) variable yang diteliti, (3) rencana tindakan, (4) data dan cara pengumpulannya, (5) indikator keberhasilan.

f. Bab IV : Hasil Penelitian dan Pembahasan

g. Bab V : Penutup terdiri atas simpulan dan saran/rekomendasi.

h. Daftar Pustaka

C. Epilog

Penelitian tindakan kelas merupakan stimulus awal bagi guru untuk mengembangkan kompetensi, baik kompetensi pedagogik, kepribadian, professional, maupun kemasyarakatan. Melalui penelitian tindakan kelas, guru diberi keleluasaan untuk berkolaborasi mencermati setiap fenomena pembelajaran secara holistic.

Membiasakan diri untuk senantiasa belajar sungguh merupakan tantangan hati nurani. Banyak guru berpendapat, sebaik apapun kinerja yang kita lakukan tidak akan bersimbiosis dengan gaji yang diterima. Buang jauh-jauh anggapan itu lantaran kita adalah guru masa depan yang cerdas.

Semoga bermanfaat!

Pustaka Acuan:

Arikunto, Suharsimi. 1991. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Hopkins, David. 1993. A. Teacher's Guide to Classroom Research. Second Edition. Philadelphia: Open University Press.

Kemmis, S & McTaggart, R. 1998. The Action Research Planner, Third Edition. Victoria: Deakin University.

Natawidjaya, Rochman. 1997. Konsep Dasar Penelitian Tindakan. Bandung: IKIP Bandung.

Nurhalim, K. 2000. Prosedur Pelaksanaan PTK. Makalah Disajikan pada Pelatihan Pengembangan Penelitian Tindakan Kelas bagi Tenaga Kependidikan Baik Dosen maupun Guru di Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh Lemlit Universitas Negeri Semarang 10-19 Juli 2000.

Priyono, Andreas. 2000. Identifikasi dan Pemecahan Masalah dalam Classroom-Based Action Research. Makalah Disajikan pada Pelatihan Pengembangan Penelitian Tindakan Kelas bagi Tenaga Kependidikan Baik Dosen maupun Guru di Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh Lemlit Universitas Negeri Semarang 10-19 Juli 2000.

Selasa, 31 Agustus 2010

ptk lagi

PTK
Posted on 9 Maret 2009 by riski075
Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki seorang guru profesional, karena dengan adanya PTK guru bisa memberikan suasana lain dari materi yang diajarkan kepada siswa. Dengan PTK pada bidangnya guru bisa memberikan materi dengan metode yang bervariasi dan dapat membuat siswa belajar dengan baik dan menyenangkan
Kali ini saya akan memberikan contoh PTK bidang studi Matematika :
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Guru yang baik, yaitu guru yang professional, tidak akan cepat puas dengan apa yang telah diraih. Diantara kopetensi professional guru yang langsung terkait dengan Penelitian Tindakan Kelas, yaitu “Kemampuan melakukan penelitian sederhana dalam rangka peningkatan kualitas professional guru, khususnya kualitas pembelajaran.”
Melaksanakan pengembangan profesi ( PTK Penelitian Tindakan Kelas ) bagi guru sangat dianjurkan, karena PTK sangat kondusif untuk membuat guru menjadi peka dan tanggap terhadap dinamika pembelajaran di kelasnya.
B. Rumusan Masalah
“Pembelajaran haruslah mudah dan menyenangkan bagi anak“; sebuah paradigma baru yang tidak bisa kita pungkiri realitasnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otak anak akan bekerja secara optimal jika suasana menyenangkan, sehingga pelajaran menjadi mudah dan menyenangkan bagi anak (Tim Triner KPI, 2005).
Siswa dapat menyenangi dan mencintai bila sesuatu itu menyenangkan. Matematika dapat disenangi apabila pelajaran tersebut dapat diikuti tanpa harus memeras otak atau dapat dikerjakan secara serius tapi santai, serta merupakan sesuatu yang menarik dan mudah. Hal inilah yang harus dicarikan alternatif, aktivitas, metode, dan variasi yang lain yang menyenangkan sehingga dapat memotivasi anak untuk belajar.
C. Tujuan Penelitian
1. Mencari metode yang tepat untuk pelajaran matematika
2. Agar siswa dapat belajar matematika dengan rasa yang menyenangkan tanpa adanya perasaan takut dalam menghadapi matematika
BAB II
KAJIAN TEORI DAN KEPUSTAKAAN
Pendidikan merupakan kunci kemajuan dan kesuksessan masa depan suatu bangsa, itu pulalah yang menyebabkan pemimpin Jepang paska bom Hiroshima dan Nagasaki menanyakan berapa orangkah guru yang masih tertinggal dan selamat.
Pendidikan merupakan pembimbigan seseorang kearah dewasa, baik secara biologis,baik secara ekonomis, baik secara sosiologis. Seseorang yang dewasa harus mempunyai skill life atau kecakapan hidup sehingga dia tidak menjadi beban bagi orang lain, Dia harus mempunyai kepribadian yang mandiri sehingga setiap tantangan, rintangan dan persoalan hidup dapat menerima dengan tenang, kemudian menghadapi dengan cermat, dan mengatasi serta memecahkannya dengan bijaksana.
Hakikat belajar mengajar: menurut Abu Ahmadi hakikat mengajar itu ada jenis 1. menanamakan pengatahuan kepada anak, 2. menyampaikan pengetahuan dan kebudayaan kepada anak, 3. suatu aktivitas mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan anak didik sehingga terjadi prases belajar.Hakiakat belajar adalah usaha sadar untuk menguasai ilmu, untuk dapat menerapkan pengetahuan , untuk dapat melaksanakan suatu pekerjaan dengan baik. Jadi belajar dan mengajar saling berkaitan dalam suatu proses menuju perubahan pengetahuan, perubahan tingakah laku, perubahan keterampilan dan dapat mengatasi persoalan hidup dengan baik dan mandiri.
A. Kajian Umum Pendidikan
Kegiatan belajar mengajar supaya lebih efektif harus memperhatikan sebagai berikut:
1. Tujuan belajar mengajar
Secara umum tujuan belajar mengajar adalah untuk mengubah pengetahuan peserta didik, mengubah kepribadian, mengubah keterampilan. Jadi dalam pendidikan harus ada perubahan kalau tidak ada perubahan maka kegiatan belajar itu tidak berhasil.
2. Guru sebagai salah satu sumber belajar.
Guru yang membimbing harus orang kompeten, pendidik yang kompeten adalah guru yang mempunyai kesadaran kependidikan yang tinggi dan memenuhi syarat -syarat seorang guru yang baik.
3. Azas didaktik
Dalam Kegiatan belajar hendak memperhatikan pengajaran (azas didaktik) antara lain :
a. Harus ada pemusatan perhatian sehingga semua potensi yang ada pada diri peserta didik dapat berfungsi dengan maksimal.
b. Harus ada keaktifan peserta didik harus aktif dalam proses belajar mengajar, keaktifan itu menunjukan dalam jiwa siswa itu ada proses.
c. Kegiatan belajar mengajar itu harus ada bahan yang diragakan sehingga dapat dilihat oleh siswa,
d. Memperhatikan kemampuan peserta didik.
e. Korelasi dan konksentrasi,
f. Praktis dan efesien
4. Bahan pengajaran
a. Bahan pembelajaran harus memenuhi tujuan umum pemdidikan dan tujuan sekolah. Di Negara manapun sekolah adalah tempat pendidikan, yaitu memberikan pendidikan keseluruhan, yang meliputi pendidikan jasmani, rohani, pendidikan perorangan serta kemasyarakatan.
b. Bahan pengajaran harus sesuai dengan tingkat sekolah, perkembangan jiwa serta jasmani murid pada umumnya. Maksudnya guru memperhatikan apakah masih tingkat pemula atau menengah atau sudah tingkat tinggi.
c. Bahan pembelajaran pokok Matematika
1. Materi Matematika
A.. Latar Belakang
Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini.
Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.
Standar kompetensi dan kompetensi dasar matematika dalam dokumen ini disusun sebagai landasan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan tersebut di atas. Selain itu dimaksudkan pula untuk mengembangkan kemampuan menggunakan matematika dalam pemecahan masalah dan mengkomunikasikan ide atau gagasan dengan menggunakan simbol, tabel, diagram, dan media lain.
Pendekatan pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran matematika yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal, masalah terbuka dengan solusi tidak tunggal, dan masalah dengan berbagai cara penyelesaian. Untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah perlu dikembangkan keterampilan memahami masalah, membuat model matematika, menyelesaikan masalah, dan menafsirkan solusinya.
Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran, sekolah diharapkan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi seperti komputer, alat peraga, atau media lainnya.
B. Tujuan
Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah
2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika
3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh
4. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah
5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
C. Ruang Lingkup
Mata pelajaran Matematika pada satuan pendidikan SMP/MTs meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
1. Bilangan
2. Aljabar
3. Geometri dan Pengukuran
4. Statistika dan Peluang.
6. Proses Belajar Mengajar.
Proses belajar mengajar adalah rangkaian kegiatan untuk mencapai tujuan pengajaran yang ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar ada beberapa hal yang perlu diperhatian supaya kegiatan itu berjalan dengan maksimal. antara lain ialah:
a. Prinsip proses belajar mengajar.
b. Pengelolaan Proses Belara Mengajar.
1). Pengorganisasian kelas.
2). Metode belajar mengajar.
3). Sarana dan sumber belajar.
a) sarana belajar,
b). Sumber belajar,
4) Teknik Evaluasi.
a. Pengertian evaluasi.
b. Tujuan Evaluasi.
c. Jenis dan fungsi evaluasi.
d. Penggunaan data evaluasi.
e. Cara dan Tehnik Penilaian.
f. Tahapan Evaluasi Hasil Belajar.
1). Tahap perencanaan evaluasi.
2). Pelaksanaan evaluasi.
3). Analisis evaluasi.
4). Pelaporan hasil evaluasi.
g. Obyek evaluasi.
Menurut Tyler, obyek evaluasi itu terdiri dari beragam aspek kepribadian yaitu:
1). Aspek befikir, termasuk diantaranya : inteligensi, ingatan, cara menginterpretasi data, pemikiran logis dan sebagainya.
2). Aspek perasaan social, termasuk diantaranya: cara bergaul, cara pemecahan nilai social dan sebagainya.
3). Aspek keyakinan social dan kewarganegaraan menyangkut pandangan hidup terhadap masalah social, politik dan ekonomi.
4). Apresiasi seni dan budaya.
5). Minat, bakat dan hobbi.
6). Perkembangan social dan personal.
KAJIAN MATEMATIKA : PEMANFAATAN MONOGRAFI DAN BATANG NAFIER
“Pembelajaran haruslah mudah dan menyenangkan bagi anak“; sebuah paradigma baru yang tidak bisa kita pungkiri realitasnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otak anak akan bekerja secara optimal jika suasana menyenangkan, sehingga pelajaran menjadi mudah dan menyenangkan bagi anak (Tim Triner KPI, 2005).
Siswa dapat menyenangi dan mencintai bila sesuatu itu menyenangkan. Matematika dapat disenangi apabila pelajaran tersebut dapat diikuti tanpa harus memeras otak atau dapat dikerjakan secara serius tapi santai, serta merupakan sesuatu yang menarik dan mudah. Hal inilah yang harus dicarikan alternatif, aktivitas, metode, dan variasi yang lain yang menyenangkan sehingga dapat memotivasi anak untuk belajar.
Materi ilmu berhitung atau dikenal dengan nama aritmatika telah dikenal dan diperoleh oleh siswa mulai dari tingkat sekolah dasar sampai tingkat menengah bahkan sampai pada tingkat sekolah lanjutan. Tetapi pada kenyataannya masih terdapat siswa yang lemah dalam materi hitung menghitung, padahal operasi bilangan bulat seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian tersebut sangat membantu mata pelajaran lainnya.
Dari hasil observasi yang dilakukan oleh penulis dengan memberikan soal-soal perkalian bilangan bulat pada siswa kelas VII ternyata setelah dilakukan pengamatan dari hasil pekerjaan siswa ditemukan beberapa masalah antara lain: (1) dari 15 soal yang harus diselesaikan oleh siswa, ternyata sebanyak 40% siswa belum bisa menyelesaikan soal yang diberikan dengan tepat dan sempurna dan (2) siswa mengerjakan soal penjumlahan, pengurangan, dan perkalian dengan cara konvensional sehingga memakan waktu yang sangat lama.Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, maka penulis mencoba menggunakan alat bantu/alat peraga monograf dan batang Napier sebagai salah satu variasi pembelajaran penjumlalan, pengurangan, dan perkalian bilangan bulat. Dengan menggunakan alat bantu ini diharapkan dapat menarik minat siswa dan dapat membantu kesulitan siswa dalam mempelajari penjumlahan, pengurangan, dan perkalian bilangan bulat, sehingga siswa lebih mudah dan lebih terampil dalam berhitung tanpa menggunakan kalkulator.
Monograf dan batang Napier pertama kali ditemukan oleh seorang bangsawan dari Skotlandia yang bernama John Napier (1550 – 1617). Cara kerja monograf cukup melihat alat peraga yang tersedia tanpa menghitung. Cara kerja batang Napier sangat sederhana yaitu dengan menerjemahkan persoalan perkalian menjadi persoalan penjumlahan. Adapun cara kerja monograf dan batang Napier dapat dilihat pada ilustrasi gambar 1.
.
.
Cara menggunakan monograf cukup menarik. Buat garis lurus yang melewati garis bilangan a, b, dan c dan siswa bisa menghitung bilangan bulat dengan tepat. Aturan pemakaiannya adalah: (1) a + b = c, (2) c – a = b, dan (3) c – b = a.
Sebagai contoh, jika a = 3, b = -5, maka untuk mencari hasil a + b maka siswa hanya perlu menarik garis lurus dari garis bilangan a di titik 3 dan garis bilangan b di titik -5. hasilnya dapat dilihat pada garis bilangan c di titik -2.
Untuk menggunakan batang Napier, ada beberapa hal yang perlu dicermati terlebih dahulu sebelum melakukan proses perkalian. Seperti contoh: 36 × 45. Bilangan 36 berarti diperlukan pita horisontal yang memuat angka 3 dan 6. Sedangkan bilangan 45 memerlukan pita vertikal yang memuat angka 4 dan 5. Untuk lebih jelasnya lihat gambar 2.
.
.
.
BAB III
PROSEDUR PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Kedokanbunder pada kelas VII semester ganjil tahun pelajaran 2006/2007 yang terdiri dari 3 kelas dengan jumlah 120 orang siswa. Penelitian diadakan pada Agustus dan September 2006.
Penelitian ini dilaksanakan menurut langkah-langkah sebagai berikut: Pertama, tahap persiapan. Tahap ini terdiri atas : (1) melapor dan meminta izin kepada kepala sekolah, (2) mengadakan observasi terhadap siswa dengan memberikan soal-soal penjumlahan, pengurangan, dan perkalian bilangan bulat, (3) mengidentifikasi masalah dari hasil observasi dan menyusun rencana tindakan, (4) menyiapkan fasilitas yang dibutuhkan, dan (5) menyusun instrumen evaluasi.
Kedua, tahap pelaksanaan. Tahap pelaksanaan ini dibagi atas 2 siklus. Siklus pertama terdiri atas kegiatan: (1) melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan tindakan tentang penggunaan monograf dalam penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat, (2) memantau/membimbing proses pembelajaran, (3) memberikan soal penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat, (4) mengevaluasi pelaksanaan tindakan, dan (5) jika siklus awal belum maksimum hasilnya, maka dilanjutkan dengan siklus kedua. Sedangkan siklus kedua meliputi beberapa kegiatan, diantaranya: (1) melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan tindakan tentang penggunaan batang Napier dalam perkalian bilangan bulat, (2) membimbing proses pembelajaran, (3) memberikan soal perkalian bilangan bulat, dan (4) mengevaluasi pelaksanaan tindakan. Tahapan penelitian diakhiri dengan penyusunan laporan.
Teknik pengumpulan data dalam tindakan adalah dengan menggunakan angket dan tes. Pada angket tindakan ini disediakan lima alternatif jawaban yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Biasa (B), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Sedangkan kriteria perolehan skor dari kuesioner dapat dilihat pada tabel 1.
.
.
Tes yang diberikan dalam tindakan ini adalah tes tertulis berupa soal menyelesaikan perkalian bilangan bulat dengan menggunakan monograf dan batang Napier. Tes digunakan untuk mengetahui keterampilan siswa dalam menggunakan monograf dan batang Napier pada akhir tindakan setiap siklus.
.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
HASIL
Siklus 1 dilaksanakan dengan menitikberatkan pada pembelajaran menggunakan monograf. Kegiatan pembelajaran menyelesaikan soal penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat menggunakan monograf ini dilakukan terhadap 3 kelas yang berjumlah 120 siswa.
Pada siklus ini, setelah dilakukan tindakan, diadakan tes untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan menggunakan monograf. Hasil yang diperoleh dari tes yang dilakukan terhadap 3 kelas dapat dilihat pada tabel 2.
.
.
Pada pelaksanaan siklus ini, penulis dibantu oleh guru mitra yang bertugas mengadakan pengamatan terhadap kegiatan pembelajaran. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut diketahui bahwa (1) aktivitas guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran sudah tepat sehingga siswa termotivasi dalam kegiatan pembelajaran, (2) pelaksanaan tindakan sudah sesuai rancangan, dan (3) respon dari siswa baik sehingga dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
Sedangkan dari hasil tes siswa dalam menyelesaikan penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat ditemukan masalah yaitu ada beberapa soal yang belum dapat diselesaikan oleh siswa. Hal ini dikarenakan siswa mengalami kesulitan dalam menggunakan monograf terutama untuk pengurangan. Kesulitan lain adalah masih terdapat pekerjaan siswa yang kurang tepat karena tidak teliti dalam melihat tanda positif atau negatif. Dan untuk mengatasi kesulitan ini dilakukan siklus kedua.
Pada siklus kedua, penulis melaksanakan pembelajaran untuk mengatasi kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal pada siklus awal, yaitu dengan menggunakan Batang Napier untuk perkalian. Dasar perkalian diambil dari kolom-kolom pada batang Napier. Sebelumnya siswa diperintahkan untuk mengamati kolom pada batang Napier, kemudian disimpulkan pola perkalian yang terdapat pada kolom-kolom tersebut.
Selanjutnya untuk mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman dan keterampilan siswa terhadap perkalian bilangan bulat dengan menggunakan batang Napier, siswa diberikan tes. Hasil dari tes pada siklus kedua ini dapat dilihat pada tabel 3.
.
.
Sedangkan hasil kuesioner yang diberikan kepada siswa di dapat hasil pada tabel 4.
.
.
Dari hasil tes pada siklus awal yang dilakukan terhadap 3 kelas dapat dikemukakan bahwa nilai ratarata dari masing-masing kelas sudah cukup baik atau dapat dikatakan siswa telah terampil menggunakan monograf untuk menyelesaikan soal-soal penjumlahan, pengurangan, dan perkalian bilangan bulat.
Untuk membantu kesulitan siswa, digunakan cara perkalian bilangan bulat dengan menggunakan batang Napier dan diakhiri dengan tes akhir. Dari tes ini diperoleh informasi bahwa nilai yang diperoleh siswa sangat memuaskan. Nilai ratarata siswa mencapai 84. Hal ini menunjukkan bahwa siswa sudah semakin terampil dalam menghitung soal penjumlahan, pengurangan, dan perkalian bilangan bulat dengan menggunakan monograf dan batang Napier.
Sedangkan dilihat dari hasil kuesioner dapat dikemukakan bahwa: (1) banyak siswa yang termasuk dalam kriteria sangat berminat berjumlah 72 siswa atau sebesar 60%, (2) banyak siswa yang termasuk dalam kriteria berminat berjumlah 31 siswa atau sebesar 25,83%, dan (3) banyak siswa yang termasuk dalam kriteria cukupberminat berjumlah 17 siswa atau sebesar 14.17%. Dari hasil kuesioner tersebut tidak ditemui siswa yang masuk dalam kategori tidak berminat dan sangat tidak berminat.
Dengan membandingkan persentase hasil kuesioner siswa tersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa siswa sangat berminat dan termotivasi dalam belajar perkalian bilangan bulat dengan menggunakan monograf dan batang Napier. Hal ini disebabkan karena siswa merasa senang dapat belajar sambil bermain sehingga siswa tidak merasa bosan selama pembelajaran. Selain itu, siswa juga merasa senang karena mengenal cara lain dalam menyelesaikan soal perkalian bilangan bulat selain dengan cara yang selama ini mereka dapatkan.
.
BAB V
PENUTUP
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa monograf dan batang Napier dapat dijadikan sebagai salah satu variasi dalam pembelajaran penjumlahan, pengurangan, dan perkalian bilangan bulat sehingga siswa mengenal cara lain dalam menyelesaikan soal bilangan bulat selain cara konvensional. Selain itu, berdasarkan hasil kuesioner dapat dikatakan bahwa penggunaan monograf dan batang Napier dapat memotivasi siswa dalam pembelajaran sehingga dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal- soal bilangan bulat.
.
SARAN
Dari penelitian ini penulis mengharapkan beberapa hal, antara lain: (1) bagi rekan guru matematika khususnya, penulis mengharapkan dapat mempopulerkan monograf dan batang Napier ini sebagai salah satu variasi dalam pembelajaran penjumlahan, pengurangan, dan perkalian bilangan bulat pada tingkat sekolah dasar maupun tingkat menengah serta (2) guru senantiasa kreatif dalam mencari dan menemukan variasivariasi menarik lainnya agar siswa selalu termotivasi dalam belajar matematika.

pendidikan

Hakikat Pendidikan
Posted on 8 November 2008 by TENTANG PENDIDIKAN| 10 Komentar
Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia yang berfikir bagaimana menjalani kehidupan dunia ini dalam rangka mempertahankan hidup dalam hidup dan penghidupan manusia yang mengemban tugas dari Sang Kholiq untuk beribadah.
Manusia sebagai mahluk yang diberikan kelebihan oleh Allah Subhanaha watta’alla dengan suatu bentuk akal pada diri manusia yang tidak dimiliki mahluk Allah yang lain dalam kehidupannya, bahwa untuk mengolah akal pikirnya diperlukan suatu pola pendidikan melalui suatu proses pembelajaran.
Berdasarkan undang-undang Sisdiknas No.20 tahun 2003 Bab I, bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Menurut William F (tanpa tahun) Pendidikan harus dilihat di dalam cakupan pengertian yang luas. Pendidikan juga bukan merupakan suatu proses yang netral sehingga terbebas dari nilai-nilai dan Ideologi.
Kosasih Djahiri (1980 : 3) mengatakan bahwa Pendidikan adalah merupakan upaya yang terorganisir, berencana dan berlangsung kontinyu (terus menerus sepanjang hayat) kearah membina manusia/anak didik menjadi insan paripurna, dewasa dan berbudaya (civilized).
Dari pengertian tersebut bahwa pendidikan merupakan upaya yang terorganisir memiliki makna bahwa pendidikan tersebut dilakukan oleh usaha sadar manusia dengan dasar dan tujuan yang jelas, ada tahapannya dan ada komitmen bersama didalam proses pendidikan itu. Berencana mengandung arti bahwa pendidikan itu direncanakan sebelumnya, dengan suatu proses perhitungan yang matang dan berbagai sistem pendukung yang disiapkan. Berlangsung kontinyu artinya pendidikan itu terus menerus sepanjang hayat, selama manusia hidup proses pendidikan itu akan tetap dibutuhkan, kecuali apabila manusia sudah mati, tidak memerlukan lagi suatu proses pendidikan.
Selanjutnya diuraikan bahwa dalam upaya membina tadi digunakan asas/pendekatan manusiawi/humanistik serta meliputi keseluruhan aspek/potensi anak didik serta utuh dan bulat (aspek fisik–non fisik : emosi–intelektual ; kognitif–afektif psikomotor), sedangkan pendekatan humanistik adalah pendekatan dimana anak didik dihargai sebagai insan manusia yang potensial, (mempunyai kemampuan kelebihan – kekurangannya dll), diperlukan dengan penuh kasih sayang – hangat – kekeluargaan – terbuka – objektif dan penuh kejujuran serta dalam suasana kebebasan tanpa ada tekanan/paksaan apapun juga.
Melalui penerapan pendekatan humanistik maka pendidikan ini benar-benar akan merupakan upaya bantuan bagi anak untuk menggali dan mengembangkan potensi diri serta dunia kehidupan dari segala liku dan seginya.
Menurut Ki Hadjar Dewantara terdapat lima asas dalam pendidikan yaitu :
1. Asas kemerdekaan; Memberikan kemerdekaan kepada anak didik, tetapi bukan kebebasan yang leluasa, terbuka (semau gue), melainkan kebebasan yang dituntun oleh kodrat alam, baik dalam kehidupan individu maupun sebagai anggota masyarakat.
2. Asas kodrat Alam; Pada dasarnya manusia itu sebagai makhluk yang menjadi satu dengan kodrat alam, tidak dapat lepas dari aturan main (Sunatullah), tiap orang diberi keleluasaan, dibiarkan, dibimbing untuk berkembang secara wajar menurut kodratnya.
3. Asas kebudayaan; Berakar dari kebudayaan bangsa, namun mengikuti kebudyaan luar yang telah maju sesuai dengan jaman. Kemajuan dunia terus diikuti, namun kebudayaan sendiri tetap menjadi acauan utama (jati diri).
4. Asas kebangsaan; Membina kesatuan kebangsaan, perasaan satu dalam suka dan duka, perjuangan bangsa, dengan tetap menghargai bangsa lain, menciptakan keserasian dengan bangsa lain.
5. Asas kemanusiaan; Mendidik anak menjadi manusia yang manusiawi sesuai dengan kodratnya sebagai makhluk Tuhan.
Menurut Tilaar (2000 : 16) ada tiga hal yang perlu di kaji kembali dalam pendidikan. Pertama, pendidikan tidak dapat dibatasi hanya sebagai schooling belaka. Dengan membatasi pendidikan sebagai schooling maka pendidikan terasing dari kehidupan yang nyata dan masyarakat terlempar dari tanggung jawabnya dalam pendidikan. Oleh sebab itu, rumusan mengenai pendidikan dan kurikulumnya yang hanya membedakan antara pendidikan formal dan non formal perlu disempurnakan lagi dengan menempatkan pendidikan informal yang justru akan semakin memegang peranan penting didalam pembentukan tingkah laku manusia dalam kehidupan global yang terbuka. Kedua, pendidikan bukan hanya untuk mengembangkan intelegensi akademik peserta didik. Pengembangan seluruh spektrum intelegensi manusia baik jasmaniah maupun rohaniyahnya perlu diberikan kesempatan didalam program kurikulum yang luas dan fleksibel, baik didalam pendidikan formal, non formal dan informal. Ketiga, pendidikan ternyata bukan hanya membuat manusia pintar tetapi yang lebih penting ialah manusia yang berbudaya dan menyadari hakikat tujuan penciptaannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Sindhunata (2000 : 14) bahwa tujuan pendidikan bukan hanya manusia yang terpelajar tetapi manusia yang berbudaya (educated and Civized human being).
Dengan demikian proses pendidikan dapat kita rumuskan sebagai proses hominisasi dan humanisasi yang berakar pada nilai-nilai moral dan agama, yang berlangsung baik di dalam lingkungan hidup pribadi, keluarga, masyarakat dan bangsa, kini dan masa depan.
Untuk membentuk masyarakat Indonesia baru yaitu masyarakat madani yang diridhoi Allah swt. tentunya memerlukan paradigma baru. Paradigma lama tidak memadai lagi bahkan mungkin sudah tidak layak lagi digunakan. Suatu masyarakat yang religius dan demokratis tentunya memerlukan berbagai praksis pendidikan yang dapat menumbuhkan individu dan masyarakat yang religius dan demokratis pula. Masyarakat yang tertutup, yang sentralistik, yang mematikan inisiatif berfikir manusia dan jauh dari nilai-nilai moral dan agama Islam bukanlah merupakan pendidikan yang kita inginkan. Pada dasarnya paradigma pendidikan nasional yang baru harus dapat mengembangkan tingkah laku yang menjawab tantangan internal dan global dengan tetap memiliki keyakinan yang kuat terhadap Allah dan Syariatnya. Paradigma tersebut haruslah mengarah kepada lahirnya suatu bangsa Indonesia yang bersatu, demokratis dan religius yang sesuai dengan kehendaknya sebagai wujud nyata fungsi kekhalifahan manusia dimuka bumi.
Oleh sebab itu, penyelenggaraan pendidikan yang sentralistik dan sekurelistik baik didalam manajemen maupun didalam penyusunan kurikulum yang kering dari nilai-nilai moral dan agama harus diubah dan disesuaikan kepada tuntutan pendidikan yang demokratis dan religius. Demikian pula di dalam menghadapi kehidupan global yang kompetitif dan inovatif, maka proses pendidikan haruslah mampu mengembangkan kemampuan untuk berkompetensi didalam kerja sama, mengembangkan sikap inovatif dan ingin selalu meningkatkan kualitas. Demikian pula paradigma pendidikan baru bukanlah mematikan kebhinekaan malahan mengembangkan kebhinekaan menuju kepada terciptanya suatu masyarakat Indonesia yang bersatu di atas kekayaan kebhinekaan mayarakat dan bangsa Indonesia.
Diambil dan Adaptasi dari:
Tata Abdulah. 2004. Landasan dan Prinsip Pendidikan Umum (Makalah). Bandung: Sekolah Pascasarjana UPI Bandung
Peran Guru dalam Proses Pendidikan
Posted on 6 Maret 2008 by TENTANG PENDIDIKAN| 45 Komentar
Efektivitas dan efisiensi belajar individu di sekolah sangat bergantung kepada peran guru. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan bahwa dalam pengertian pendidikan secara luas, seorang guru yang ideal seyogyanya dapat berperan sebagai :

1. Konservator (pemelihara) sistem nilai yang merupakan sumber norma kedewasaan;
2. Inovator (pengembang) sistem nilai ilmu pengetahuan;
3. Transmitor (penerus) sistem-sistem nilai tersebut kepada peserta didik;
4. Transformator (penterjemah) sistem-sistem nilai tersebut melalui penjelmaan dalam pribadinya dan perilakunya, dalam proses interaksi dengan sasaran didik;
5. Organisator (penyelenggara) terciptanya proses edukatif yang dapat dipertanggungjawabkan, baik secara formal (kepada pihak yang mengangkat dan menugaskannya) maupun secara moral (kepada sasaran didik, serta Tuhan yang menciptakannya).
Sedangkan dalam pengertian pendidikan yang terbatas, Abin Syamsuddin dengan mengutip pemikiran Gage dan Berliner, mengemukakan peran guru dalam proses pembelajaran peserta didik, yang mencakup :
1. Guru sebagai perencana (planner) yang harus mempersiapkan apa yang akan dilakukan di dalam proses belajar mengajar (pre-teaching problems).;
2. Guru sebagai pelaksana (organizer), yang harus dapat menciptakan situasi, memimpin, merangsang, menggerakkan, dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan rencana, di mana ia bertindak sebagai orang sumber (resource person), konsultan kepemimpinan yang bijaksana dalam arti demokratik & humanistik (manusiawi) selama proses berlangsung (during teaching problems).
3. Guru sebagai penilai (evaluator) yang harus mengumpulkan, menganalisa, menafsirkan dan akhirnya harus memberikan pertimbangan (judgement), atas tingkat keberhasilan proses pembelajaran, berdasarkan kriteria yang ditetapkan, baik mengenai aspek keefektifan prosesnya maupun kualifikasi produknya.
Selanjutnya, dalam konteks proses belajar mengajar di Indonesia, Abin Syamsuddin menambahkan satu peran lagi yaitu sebagai pembimbing (teacher counsel), di mana guru dituntut untuk mampu mengidentifikasi peserta didik yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar, melakukan diagnosa, prognosa, dan kalau masih dalam batas kewenangannya, harus membantu pemecahannya (remedial teaching).
Di lain pihak, Moh. Surya (1997) mengemukakan tentang peranan guru di sekolah, keluarga dan masyarakat. Di sekolah, guru berperan sebagai perancang pembelajaran, pengelola pembelajaran, penilai hasil pembelajaran peserta didik, pengarah pembelajaran dan pembimbing peserta didik. Sedangkan dalam keluarga, guru berperan sebagai pendidik dalam keluarga (family educator). Sementara itu di masyarakat, guru berperan sebagai pembina masyarakat (social developer), penemu masyarakat (social inovator), dan agen masyarakat (social agent).
Lebih jauh, dikemukakan pula tentang peranan guru yang berhubungan dengan aktivitas pengajaran dan administrasi pendidikan, diri pribadi (self oriented), dan dari sudut pandang psikologis.
Dalam hubungannya dengan aktivitas pembelajaran dan administrasi pendidikan, guru berperan sebagai :
1. Pengambil inisiatif, pengarah, dan penilai pendidikan;
2. Wakil masyarakat di sekolah, artinya guru berperan sebagai pembawa suara dan kepentingan masyarakat dalam pendidikan;
3. Seorang pakar dalam bidangnya, yaitu menguasai bahan yang harus diajarkannya;
4. Penegak disiplin, yaitu guru harus menjaga agar para peserta didik melaksanakan disiplin;
5. Pelaksana administrasi pendidikan, yaitu guru bertanggung jawab agar pendidikan dapat berlangsung dengan baik;
6. Pemimpin generasi muda, artinya guru bertanggung jawab untuk mengarahkan perkembangan peserta didik sebagai generasi muda yang akan menjadi pewaris masa depan; dan
7. Penterjemah kepada masyarakat, yaitu guru berperan untuk menyampaikan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat.
Di pandang dari segi diri-pribadinya (self oriented), seorang guru berperan sebagai :
1. Pekerja sosial (social worker), yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan kepada masyarakat;
2. Pelajar dan ilmuwan, yaitu seorang yang harus senantiasa belajar secara terus menerus untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya;
3. Orang tua, artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap peserta didik di sekolah;
4. model keteladanan, artinya guru adalah model perilaku yang harus dicontoh oleh mpara peserta didik; dan
5. Pemberi keselamatan bagi setiap peserta didik. Peserta didik diharapkan akan merasa aman berada dalam didikan gurunya.
Dari sudut pandang secara psikologis, guru berperan sebagai :
1. Pakar psikologi pendidikan, artinya guru merupakan seorang yang memahami psikologi pendidikan dan mampu mengamalkannya dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik;
2. seniman dalam hubungan antar manusia (artist in human relations), artinya guru adalah orang yang memiliki kemampuan menciptakan suasana hubungan antar manusia, khususnya dengan para peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan;
3. Pembentuk kelompok (group builder), yaitu mampu mambentuk menciptakan kelompok dan aktivitasnya sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan;
4. Catalyc agent atau inovator, yaitu guru merupakan orang yang yang mampu menciptakan suatu pembaharuan bagi membuat suatu hal yang baik; dan
5. Petugas kesehatan mental (mental hygiene worker), artinya guru bertanggung jawab bagi terciptanya kesehatan mental para peserta didik.
Sementara itu, Doyle sebagaimana dikutip oleh Sudarwan Danim (2002) mengemukan dua peran utama guru dalam pembelajaran yaitu menciptakan keteraturan (establishing order) dan memfasilitasi proses belajar (facilitating learning). Yang dimaksud keteraturan di sini mencakup hal-hal yang terkait langsung atau tidak langsung dengan proses pembelajaran, seperti : tata letak tempat duduk, disiplin peserta didik di kelas, interaksi peserta didik dengan sesamanya, interaksi peserta didik dengan guru, jam masuk dan keluar untuk setiap sesi mata pelajaran, pengelolaan sumber belajar, pengelolaan bahan belajar, prosedur dan sistem yang mendukung proses pembelajaran, lingkungan belajar, dan lain-lain.
Sejalan dengan tantangan kehidupan global, peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks, sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya. Guru harus harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well informed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh, berkembang, berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. Di masa depan, guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya.
Jika guru tidak memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian cepat, ia akan terpuruk secara profesional. Kalau hal ini terjadi, ia akan kehilangan kepercayaan baik dari peserta didik, orang tua maupun masyarakat. Untuk menghadapi tantangan profesionalitas tersebut, guru perlu berfikir secara antisipatif dan proaktif. Artinya, guru harus melakukan pembaruan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya secara terus menerus. Disamping itu, guru masa depan harus paham penelitian guna mendukung terhadap efektivitas pengajaran yang dilaksanakannya, sehingga dengan dukungan hasil penelitiaan guru tidak terjebak pada praktek pengajaran yang menurut asumsi mereka sudah efektif, namum kenyataannya justru mematikan kreativitas para peserta didiknya. Begitu juga, dengan dukungan hasil penelitian yang mutakhir memungkinkan guru untuk melakukan pengajaran yang bervariasi dari tahun ke tahun, disesuaikan dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berlangsung.
3 Klasifikasi Tenaga Guru dan 5 Tingkatan Praktik Pembelajaran
Posted on 21 April 2008 by TENTANG PENDIDIKAN| 4 Komentar
Telah disyaratkan dalam Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen bahwa untuk dapat memangku jabatan guru, minimal memiliki kualifikasi pendidikan D4/S1. Namun dalam kenyataannya saat ini kualifikasi pendidikan guru di Indonesia memang masih beragam. Dalam hal ini, Conny Semiawan (Sudarwan Danim, 2002), memilah keberadaan tenaga guru di Indonesia ke dalam tiga jenis secara hierarkis, yaitu :
1. Guru sebagai tenaga profesional, yang berkualifikasi pendidikan sekurang-kurangnya S1 (atau yang setara), memiliki wewenang penuh dalam perencanaan, pelaksanaan, penilaian dan pengendalian pendidikan/ pembelajaran.
2. Guru sebagai tenaga semi profesional, yang berkualifikasi pendidikan D3 (atau yang setara) yang telah berwenang mengajar secara mandiri tetapi masih harus melakukan konsultasi dengan tenaga kependidikan yang lebih tinggi jenjang profesionalnya, baik dalam hal perencanaan pelaksanaan, penilaian dan pengendalian pendidikan/ pembelajaran.
3. Guru sebagai tenaga paraprofesional, yang berkualifikasi pendidikan tenaga kependidikan D2 ke bawah, yang memerlukan pembinaan dalam perencanaan, pelaksanaan, penilaian dan pengendalian/ pembelajaran.
Sementara itu, dalam praktik pembelajaran pun tampaknya masih terjadi keragaman. Dengan mengadopsi pemikiran Prayitno (2005) tentang lima tingkatan praktik dalam konseling, di bawah ini dijelaskan secara singkat tentang lima tingkatan praktik pembelajaran, sebagai berikut:
1. Tingkat pembelajaran pragmatik.
Tingkat pembelajaran pragmatik yaitu pembelajaran yang diselenggarakan guru dengan menggunakan cara-cara yang menurut pengalaman guru pada waktu terdahulu dianggap memberikan hasil yang optimal, meskipun cara-cara tersebut sama sekali tidak berdasarkan pada teori tertentu.
2.Tingkat pembelajaran dogmatik
Pada tingkat pembelajaran dogmatik, praktik pembelajaran yang dilakukan guru telah menggunakan pendekatan berdasarkan teori tertentu, namun pendekatan tersebut dijadikan dogma untuk segenap kepentingan proses pembelajaran siswa.
3. Tingkat pembelajaran sinkretik
Pada tingkat pembelajaran sinkretik, pembelajaran yang diselenggarakan guru telah menggunakan sejumlah pendekatan pembelajaran, namun penggunaan pendekatan tersebut bercampur aduk tanpa sistematika ataupun pertimbangan yang matang. Pendekatan-pendekatan tersebut sekedar dicomot dan diterapkan dalam kegiatan pembelajaran tanpa memperhatikan relevansi dan ketepatannya.
4. Tingkat pembelajaran eklektik
Dalam penyelenggaraan pembelajaran eklektik, guru telah memiliki pemahaman yang mendalam tentang berbagai pendekatan pembelajaran dengan berbagai teknologinya, dan berusaha memilih serta menerapkan sebagian atau satu kesatuan pendekatan beserta teknologinya sesuai dengan permasalahan dan kebutuhan belajaran siswa. Pendeketan-pendekatan tersebut tidak dicampur aduk, namun dipilah-pilah, masing-masing diplih secara cermat untuk kepentingan pembelajaran siswa. Penyelenggaraan pembelajaran eklektif tidak mengangungkan atau menjadikan suatu pendekatan pembelajaran tertentu sebagai dogma. Dengan demikian, dalam penyelenggaraan pembelajaran eklektif, guru mengetahui kapan menggunakan atau tidak menggunakan pendekatan pembelajaran tertentu.
5. Tingkat pembelajaran mempribadi
Tingkat pembelajaran yang mempribadi mempunyai ciri-ciri : (1) penguasaan yang mendalam terhadap sejumlah pendekatan pembelajaran beserta teknologinya, (2) kemampuan memilih dan menerapkan secara tepat pendekatan berserta teknologinya untuk kepentingan pembelajaran siswa, dan (3) pemberian warna pribadi yang khas sehingga tercipta praktik pembelajaran yang benar-benar ilmiah, efektif, produktif, dan unik.
Refleksi untuk Anda:
1. Tingkat pembelajaran manakah yang paling banyak dilakukan guru di Indonesia saat ini?
2. Jika dihubungkan dengan sertifikasi guru, guru yang telah tersertifikasi berada pada tingkatan pembelajaran yang mana?
Sumber:

Sudarwan Danim. 2002. Inovasi Pendidikan;Dalam Upaya Meningkatkan Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Bandung : Pustaka Setia.
Prayitno. 2005. Konseling Pancawaskita. Padang : FIP Universitas Negeri Padang